Translate

Sabtu, 19 April 2025

KISAH MENJELANG IDUL FITRI

Syekh Maktub berharap bahwa perjalanannya ke Mekkah kali ini bisa memberikan makna yang besar karena waktu tibanya akan bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, sayangnya perjalanan berhari-hari itu tak seindah yang dia bayangkan. Orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang dia perjuangkan. Dia tidak bisa berharap banyak dari kepedulian orang untuk memberikan dukungan melalui berbagai hal yang dapat dia manfaatkan untuk membantunya selama perjalanan. Ekspektasinya mendapat tanggapan positif orang-orang, akan kegiatan iman yang sedang diperjuangkannya ternyata tak berbuah baik. Dia kembali harus sadar dan realistis, bahwa perubahan jaman dan kemajuan teknologi telah membuat banyak orang menganggap apa yang dilakukannya saat ini, yaitu pergi ke Mekkah dengan mengendarai unta justru hanyalah tindakan sensasional yang tidak rasional, mengingat jarak dari kotanya ke Mekkah hampir 50000 km. Syekh Maktub akhirnya harus mengakhiri perjalanannya lebih cepat ketika memasuki kota ke 50 dari 375 kota yang harus dia lewati selama perjalanan. Hari tepat memasuki waktu maghrib ketika seorang tua penjual tembikar tradisional, menyapanya dan menawarinya tempat untuk istirahat. Pria itu bercerita bahwa kebutuhan masyarakat saat ini di kotanya telah banyak berubah, dan orang-orang tak lagi suka dengan barang-barang berbahan dasar tanah liat, sehingga dia mungkin juga akan berhenti berjualan, karena merasa tak mampu lagi beradaptasi dengan perubahan jaman yang luar biasa. Syekh Maktub dan Pria itu kemudian menghabiskan malam sambil bertukar cerita tentang berbagai hal yang dulu pernah mereka banggakan sambil sesekali menghela nafas ketika keduanya menyadari bahwa mereka mungkin tak lagi jadi bagian dari kehidupan masa kini.